PROBLEMATIKA PASANGAN MARRIED BY ACCIDENT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KETAHANAN KELUARGA (Studi Kasus Di Desa Pantai Ulin Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan)
Abstrak
Kata Kunci: Married by Accident, Ketahanan Keluarga, Keharmonisan
Keluarga, Maqāṣhid al-Syarī‘ah.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena married by accident (MBA)
yang terjadi akibat kehamilan sebelum menikah dan berpotensi menimbulkan
berbagai permasalahan dalam kehidupan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya married by accident,
problematika yang dihadapi pasangan setelah menikah serta pengaruhnya terhadap
ketahanan keluarga, dan upaya yang dilakukan pasangan dalam mempertahankan
ketahanan keluarga di Desa Pantai Ulin.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan
pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari tiga pasangan yang mengalami
married by accident di Desa Pantai Ulin. Data diperoleh melalui wawancara
mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis penelitian menggunakan
teori ketahanan keluarga, teori keharmonisan keluarga, dan teori maqāṣhid alsyarī‘ah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya
married by accident meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
berupa rendahnya kontrol diri, ketidakmatangan emosional, kurangnya kemampuan
mempertimbangkan konsekuensi tindakan, serta minimnya pemahaman agama.
Adapun faktor eksternal berupa pergaulan yang bebas, hubungan pacaran tanpa
batasan yang jelas, dan kurang optimalnya pengawasan keluarga. Problematika
yang dihadapi pasangan setelah menikah meliputi masalah ekonomi, psikologis,
komunikasi, dan sosial. Kondisi tersebut berdampak pada ketahanan keluarga, yaitu
rendahnya ketahanan fisik akibat ketidakstabilan ekonomi, lemahnya ketahanan
sosial karena terganggunya komunikasi dan adanya stigma masyarakat, serta
rendahnya ketahanan psikologis yang ditandai dengan stres, konflik
berkepanjangan, dan munculnya keinginan untuk berpisah. Bahkan dua dari tiga
responden dalam penelitian ini mengalami perceraian. Upaya yang dilakukan untuk
mempertahankan ketahanan keluarga meliputi memperbaiki komunikasi, saling memahami dan mengendalikan emosi, memanfaatkan dukungan keluarga besar,
meningkatkan religiusitas (mendekatkan diri kepada agama), bertahan demi anak,
serta berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Berdasarkan perspektif ketahanan keluarga, pasangan married by accident
cenderung memiliki ketahanan fisik, sosial, dan psikologis yang belum optimal.
Ditinjau dari teori keharmonisan keluarga, tingkat cohesion dan adaptability
pasangan relatif rendah akibat tekanan ekonomi dan konflik yang berulang.
Sementara itu, dalam perspektif maqāṣhid al-syarī‘ah, aspek hifẓ al-dīn, hifẓ al-
‘aql, hifẓ al-nafs, dan hifẓ al-māl belum tercapai secara optimal, sedangkan aspek
hifẓ al-nasl diwujudkan melalui pernikahan sebagai bentuk tanggung jawab untuk
menjaga status dan keberlangsungan keturunan.