Skripsi Mahasiswa / 2026
RECORD #686

PROBLEMATIKA PASANGAN MARRIED BY ACCIDENT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KETAHANAN KELUARGA (Studi Kasus Di Desa Pantai Ulin Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan)

DIAH RAHMAWATI· NIM 2021110871

Abstrak

Kata Kunci: Married by Accident, Ketahanan Keluarga, Keharmonisan Keluarga, Maqāṣhid al-Syarī‘ah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena married by accident (MBA) yang terjadi akibat kehamilan sebelum menikah dan berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan dalam kehidupan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya married by accident, problematika yang dihadapi pasangan setelah menikah serta pengaruhnya terhadap ketahanan keluarga, dan upaya yang dilakukan pasangan dalam mempertahankan ketahanan keluarga di Desa Pantai Ulin. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari tiga pasangan yang mengalami married by accident di Desa Pantai Ulin. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis penelitian menggunakan teori ketahanan keluarga, teori keharmonisan keluarga, dan teori maqāṣhid alsyarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya married by accident meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa rendahnya kontrol diri, ketidakmatangan emosional, kurangnya kemampuan mempertimbangkan konsekuensi tindakan, serta minimnya pemahaman agama. Adapun faktor eksternal berupa pergaulan yang bebas, hubungan pacaran tanpa batasan yang jelas, dan kurang optimalnya pengawasan keluarga. Problematika yang dihadapi pasangan setelah menikah meliputi masalah ekonomi, psikologis, komunikasi, dan sosial. Kondisi tersebut berdampak pada ketahanan keluarga, yaitu rendahnya ketahanan fisik akibat ketidakstabilan ekonomi, lemahnya ketahanan sosial karena terganggunya komunikasi dan adanya stigma masyarakat, serta rendahnya ketahanan psikologis yang ditandai dengan stres, konflik berkepanjangan, dan munculnya keinginan untuk berpisah. Bahkan dua dari tiga responden dalam penelitian ini mengalami perceraian. Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan ketahanan keluarga meliputi memperbaiki komunikasi, saling memahami dan mengendalikan emosi, memanfaatkan dukungan keluarga besar, meningkatkan religiusitas (mendekatkan diri kepada agama), bertahan demi anak, serta berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Berdasarkan perspektif ketahanan keluarga, pasangan married by accident cenderung memiliki ketahanan fisik, sosial, dan psikologis yang belum optimal. Ditinjau dari teori keharmonisan keluarga, tingkat cohesion dan adaptability pasangan relatif rendah akibat tekanan ekonomi dan konflik yang berulang. Sementara itu, dalam perspektif maqāṣhid al-syarī‘ah, aspek hifẓ al-dīn, hifẓ al- ‘aql, hifẓ al-nafs, dan hifẓ al-māl belum tercapai secara optimal, sedangkan aspek hifẓ al-nasl diwujudkan melalui pernikahan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga status dan keberlangsungan keturunan.