DAMPAK PERCERAIAN TERHADAP SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK (STUDI KASUS DESA TABUDARAT HILIR KECAMATAN LABUAN AMAS SELATAN)
Abstrak
Kata Kunci: Perceraian, Anak, Perkembangan Sosial, Perkembangan Emosional,
Maṣlaḥah Mursalah, Maqashid Syariah.
Perceraian orang tua merupakan peristiwa keluarga yang dapat
menimbulkan berbagai implikasi terhadap perkembangan anak, khususnya pada
aspek sosial dan emosional. Anak sebagai pihak yang paling rentan sering kali
mengalami perubahan emosi dan perilaku sosial akibat terjadinya perceraian orang
tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis dampak perceraian
orang tua terhadap perkembangan sosial dan emosional anak di Desa Tabudarat
Hilir, Kecamatan Labuan Amas Selatan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologis dengan jenis penelitian
empiris. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi terhadap anak-anak yang orang tuanya bercerai, orang
tua, serta informan pendukung seperti keluarga dan lingkungan sekitar. Analisis
data dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dianalisis menggunakan
Attachment Theory, teori perkembangan emosi, serta perspektif Islam melalui
konsep maṣlaḥah mursalah dan maqashid syariah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian orang tua berdampak pada
kondisi emosional anak, seperti munculnya perasaan sedih, kehilangan, kecemasan,
ketidakstabilan emosi, serta penurunan motivasi belajar. Selain itu, perceraian juga
berdampak pada aspek sosial anak, yang ditandai dengan perubahan pola interaksi
sosial, seperti menarik diri dari pergaulan, kurang percaya diri, dan kesulitan dalam
menjalin hubungan dengan teman sebaya. Namun demikian, penelitian ini juga
menemukan bahwa dukungan sosial dari keluarga besar, lingkungan sekolah, dan
teman sebaya berperan penting sebagai faktor pelindung yang membantu anak
beradaptasi secara sosial dan emosional pasca perceraian.